Assalamualaikum, pertama kalinya membuat resensi buku di Blog. Biasanya membuat resensi hanya di Medsos IG aja, hehe.. Terimakasih untuk teh Imawati PJ Rumbel Literasi IP Sukabumi atas
Tips membuat resensi bukunya. Sangat bermanfaat sekaliii...
Baiklah bismillah.. inilaaah Resensi buku pertamaku di blog. Yeay...
Data Buku
Judul : GADIS PANTAI
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun Terbit : 2003
Halaman : 280 hlm
Ukuran : 13 x 20 cm
Jenis : Roman
Harga Buku : Rp. 95,000
ROMAN
Pertama, kita kenalan dulu ya.. apa sih Roman?
Dalam Teori Pengkajian Fiksi (1998) karya Burhan Nurgiyantoro, dalam pengertian modern, roman berarti cerita prosa yang melukiskan pengalaman-pengalaman batin dari beberapa orang yang berhubungan satu dengan yang lainnya dalam suatu keadaan. Selain itu, menurut wikipedia Roman adalah cerita fiksi atau rekaan yang menggambarkan kronik kehidupan para tokoh secara rinci dan mendalam.
Gadis Pantai
Sampul buku Gadis Pantai, Lentera Dipantara
Gadis Pantai adalah sebuah roman karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1962 dalam surat kabar Bintang Timur sebagai cerita bersambung. Gadis Pantai adalah roman yang tidak selesai. Sejatinya, roman ini merupakan trilogi. Disebabkan oleh vandalisme angkatan darat, dua buku lanjutan Gadis Pantai raib ditelan keganasan kuasa, kepicikan pikir, dan kekerdilan tradisi aksara.
Gadis pantai pun dipastikan tak akan pernah ada jika saja pihak Universitas Nasional Australia di Canberra tidak mendokumentasiannya.
--------------
Pantai Rembang. Source: Sanjayatour
Di ceritakan, Gadis pantai saat itu berusia 14 tahun. Kecil mungil. Bermata Jeli. Suatu hari datang seorang utusan yang datang ke rumah orangtuanya. Dan membuatnya harus pergi meninggalkan kampung halamannya yang amis baunya. Ia dibawa ke Kota, menggunakan kain dan kebaya, kalung emas tipis. Hal yang bahkan dalam mimpipun belum pernah ia rasakan. Sepanjang perjalanan ia menangis, secara mental belum siap mungkin ya. Tapi orangtuanya meyakinkannya, bahwa ini adalah hal yang membanggakan, hal yang di impikan gadis lain, menjadi seorang Bendoro Putri. Diangkat derajatnya dengan di nikahi oleh orang kaya. Walaupun sebetulnya ia tidak pernah merasa miskin dengan keadaan hidupnya. Ia merasa cukup bahagia dengan hidupnya.
Ah, mana ada orangtua yang akan melemparkan anaknya ke dalam perangkap singa?
Lalu, dinikahkanlah gadis pantai dengan sebilah keris. Gadis belia itu kini bukanlah seorang sahaya. Kini Gadis pantai dilayani oleh banyak bujang. Namun hanya ada satu seorang perempuan tua yang menjadi pelayan setia dan terdekatnya. Pelayan yang selalu membantunya, selalu mengajarinya kehidupan di dalam gedung itu, dan yang mengajarinya pula bagaimana cara melayani dan bersikap kepada bendoro. Bujang itu selalu menyebutnya dengan sebutan "Mas Nganten". Gadis pantai telah berubah menjadi wanita terhormat. Segala keperluan dan kebutuhannya hanya tinggal memerintah saja.
Selain itu, Lewat pelayan tua itulah gadis pantai sadar, bahwa ia diambil pembesar ke kota bukan sebagai istrinya. Melainkan, Ia diambil oleh seorang pembesar untuk menjadi gundik pembesar itu dan menjadi seorang Mas Nganten (perempuan pemuas kebutuhan seks pembesar / istri percobaan priyayi). Walaupun menjadi perempuan utama di gedung itu, gadis pantai harus tetap tunduk dan menaati segala perintah Bendoro Guru. Bahkan segala kegiatan dan aktivitasnya harus melalui izin bendoro terlebih dahulu. Gadis itu bagaikan berada dalam penjara. Bendoro pun sering meninggalkannya beberapa hari, hingga tujuh haripun pernah. Namun, ia kembali sadar bahwa ia hanyalah seorang Mas Nganten, ia bukan istri bendoro yang sesungguhnya. Kamar mereka berdua pun terpisah, bendoro akan tidur di kamar gadis pantai itu ketika bendoro sedang menginginkannya.
Namun sayang, Pelayan tua itu harus pergi, diusir karena sebuah kejadian. mas Nganten merasa sedih, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua keputusan ada di tangan Bendoro Guru. Pengganti bujan itu adalah Mardinah, dipilih oleh Bendoro karena masih memiliki hubungan kerabatan (dari bangsawan Demak). Namun, kedatangannya bukan sekedar melayani gadis pantai saja, ia sangat berani dan selalu menantang gadis pantai. Lewat mardinah gadis pantai tau bahwa bendoro demak ingin menikahkan bendoro (suami gadis pantai) dengan perempuan bangsawan yang sederajat dengannya. Karena seorang pembesar dianggap masih perjaka apabila belum menikah dengan sesama bangsawannya, walaupun sudah berulang kali menikah dengan gadis kampung.
Setelah 3 tahun, Mas Nganten akhirnya hamil. Ia merasa senang karena telah memberikan keturunan kepada Bendoro. Ia melahirkan anak perempuan. Namun, beberapa minggu setelah ia melahirkan bayinya, Bendoro mengutus anak buahnya untuk menjemput Ayah Mas nganten. Ayah Mas Nganten terkejut dan senang melihat putrinya telah melahirkan cucunya. Tak disangka, ternyata kehadiran sang ayah di istana untuk membawa Mas Nganten pulang. Mereka diberi pesangon uang dan barang-barang yang telah diberikan Bendoro kepada Mas Nganten. Mas nganten memohon kepada Bendoro agar diizinkan membaya putrinya. Tapi Bendoro menolaknya. Hal ini sangat menyakitkan bagi gadis pantai ketika meninggalkan anaknya. Namun, ia tidak dapat berbuat apa apa, mengingat ia adalah hanya seorang sahaya dan rakyat kampung.
Ditemani ayahnya, Mas Nganten pulang menggunkan dokar yang telah disiapkan. Sang ayah menenangkan anaknya supaya tidak bersedih. Belum sampai rumah, Mas nganten(Gadis Pantai) memohon pamit kepada ayahnya untuk pergi ke Blora, menemui bujangnya yang dulu pernah diusir oleh Bendoro. Ia merasa malu jika harus kembali ke kampung halamannya. Hari-hari terlewati, Gadis Pantai hanya bisa melihat istana dari kejauhan.
Sinopsis
Roman ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang gadis yang berasal dari sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang, yang dikawinkan dengan seorang priyayi dari kota. Mulanya, perkawinan itu memberi prestise baginya di kampung halamannya karena dia dipandang telah dinaikkan derajatnya menjadi Bendoro Putri. Namun, ia kembali terperosok, setelah orang Jawa yang telah memilikinya, tega membuangnya setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.
Gadis pantai sangat kehilangan segalanya. Tidak punya suami. Tidak ada rumah. tidak ada anak (Karena anaknya dirampas pembesar Jawa untuk tetap tinggal di Rembang). Tidak punya pekerjaan. Karena malu jika harus pulang ke kampung halamannya, ia pun berputar ke selatan ke kota kecil, Blora.
Kisah sekuel Gadis pantai berhenti sampai disini. Roman yang menjadi sekuel pertama dari trilogi roman keluarga ini adalah roman yang indah dan mempesona. Dalam Roman ini, Pramoedya Ananta Toer memperlihatkan kontradiksi negatif praktik feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan. Roman ini menusuk feodalisme Jawa tepat langsung di jantungnya yang paling dalam.
--------------
Apa sih kelebihan dari Roman ini?
Roman ini menusuk paham Feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan, maka dengan itu bisa mengajarkan kita bahwa dalam kemanusiaan kita tidak boleh membedakan dalam hal sosial. Di mata Allah, semua sama. Seperti yang Islam ajarkan, tidak boleh ada perbudakan. Menulis sebuah karya dengan bertemakan seperti ini juga jarang dituangkan oleh sastrawan lainnya. Saat baca roman ini, saya benar-benar larut dalam cerita dengan segala penggambarannya yang begitu rinci, Roman ini sudah menjadi sumbangan sastra untuk dunia dan sudah diterjemahkan kedalam 42 bahasa dan mendapat berbagai pengharagan.
Apa ada kelemahan dari karya sebesar ini?
Sejujurnya saya tidak melihat ada sebuah kelemahan. Karya ini sungguh luar biasa. Jenis bahasa yang di gunakannya pun sangat kental dengan gaya bahasa pada zaman itu. Sehingga mungkin ada beberapa masayrakat yang kesulitan menangkap kata per kata dari karya ini. Saya pertama membaca buku ini pada tahun 2006, saat itu masih duduk di bangku SMA. Yang saya rasakan memang agak kesulitan mencerna maksud dari percakapan ceritanya.
--------------
Menurut saya Roman Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer mempunyai nilai-nilai yang sangat tinggi. Tidak dibedakan manusia hanya karena warna kulit atau kaya dengan miskin. Semua sama di hadapan Allah, kecuali orang yang bertaqwa. Juga disebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian” (HR. Muslim).
Jadi, untuk apa kita menjadi orang terpandang dan hebat di mata manusia? tapi kita tidak memperlakukan Manusia lainnya benar-benar Menjadi Manusia?
--------------
Cukup sekian dan terimakasih.
Bagus sekali resensi'y, bikin yg baca ikut tertarik dgn isi buku tsb 😊
ReplyDeleteTerimakasih banyak. Yuk baca buku ini 🥰😍
Delete